Do I love you because I need you?
or
do I need you because I love you?
— Erich Fromm
Apakah benar rancangan dasar manusia membuatnya mustahil untuk happily ever after? Yah…sadly to say… memang benar. Karena manusia itu adalah makhluk hidup. Sesuatu yang hidup pasti berdinamika. Kadang sedih, kadang senang. Kadang pintar kadang bodoh. Kadang menyenangkan kadang membosankan. Seperti hidup itu sendiri yang selalu berubah…mustahil kita selalu pada keadaan yang tetap. Lagipula bagamana kita tau bahwa kita sedang bahagia jika kita tidak pernah merasakan kesedihan?
Dinamika yang rumit ini juga terjadi di kehidupan percintaan. Hubungan yang terjadi hanya antara dua orang dewasa, tapi ribetnya ngalah-ngalahin ngurus negara.Sebenarnya apa yang kita cari dari sebuah hubungan? Apakah kita mencari akhir yang sempurna? Mengapa bisa kita memilih satu orang dan tidak yang lain? Apa kita memilihnya karena dia bisa memenuhi apa yang jadi kebutuhan kita? Atau kita memang membutuhkannya karena kita cinta padanya? Kalau cinta itu
Manusia adalah makhluk hidup yang dinamis, maka semua aspek yang ada di manusia akan saling mempengaruhi. Sebut saja aspek biologis dan psikologis atau yang sering disebut body and soul. Kedua aspek ini sama-sama menentukan bagaimana kita bertingkah laku. Keadaan biologis mempengaruhi keadaan psikologis, dan keadaan psikologis mempengaruhi keadaan biologis. Sebagai ilustrasi, misalnya saat kita merasa gelisah karena gebetan kita tidak membalas sms kita. Detak jantung kita menjadi lebih cepat, keringat mengucur, pusing, sulit tidur, nafas menjadi pendek-pendek serta otot-otot terutama daerah leher dan tengkuk terasa kaku dan pegal. Pada situasi ini keadaan psikologis (gelisah) mempengaruhi keadaan biologis (deg-degan, pegal dll). Lalu kita pergi ke Salon untuk di creambath, tangan-tangan terampil mbak salon memijat kepala dan pundak kita sehingga otot-otot tegangnya lemas. Otot yang lebih rileks akan membawa perasaan santai sehingga menurunkan kegelisahan yang kita alami. Begitu juga saat kita jatuh cinta, keadaan tubuh kita mengalami perubahan yang membawa dampak kepada keadaan psikologis kita (besarnya perasaan sayang, perasaan ada “diawan”dsb ). Sebaliknya, perubahan keadaan psikologis yang juga dipengaruhi proses berfikir serta interaksi antar aspek kepribadian menyebabkan perubahan keadaan tubuh.
Sebenarnya apa yang terjadi saat kita jatuh cinta. Coba ingat saat anda mulai naksir lawan jenis atau permulaan pacaran, anda tidak pernah berhenti memikirkan pasangan anda. Anda bisa berbicara dengannya sampai berjam-jam di telepon, anda tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi padahal baru saja bertemu. Perasaan cinta menggebu ini sebenarnya merupakan ketertarikan fisik yang dikaitkan dengan perasaan sayang atau cinta. Pada awal-awal berhubungan memang mau tidak mau harus kita akui, ketertarikan kita hanyalah sebatas fisik. Terlihat dari usaha kita untuk selalu bertemu, selalu dekat,tingkah laku ini merupakan cara kita untuk menghadirkan pasangan kita secara fisik sehingga menimbulkan suatu kepuasan tertentu. Bahkan saat kita telpon terus-terusan kita menghadirkan kehadiran fisik pasangan kita dalam bentuk suaranya. Sebenarnya perasaan ini muncul sebagai cara alami badan memberitahukan bahwa kita punya keinginan untuk berhubungan sex dengan incaran kita. Hah… berhubungan sex? Yup karena diakui atau tidak, secara biologis kita mencari pasangan untuk mendapatan keturunan. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan keturunan adalah dengan berhubungan seksual. Ditambah lagi, saat kita mengalami ketertarikan tak tertahankan itu,terjadi letupan-letupan dari cairan kimia otak kita. Cairan-cairan yang terlibat antara lain Phenylethylamine (yang memprcepat aliran informasi antar sel otak yang satu ke yang lain), dopamine (membuat kita “bersinar” dan bahagia), and norepinephrine (menstimulasi produksi adrenalin). Ketiga cairan ini membuat dunia kita berputar, mata kita bersinar-sinar dan membuat kita jadi deg-deg ser.
Tapi mengapa kita tertarik pada orang itu dan bukan yang lain? Mengapa cairan itu hanya meletup saat kita bertemu orang tertentu saja? Para orang-orang pintar yang jadi peneliti menyimpulkan bahwa orang yang mampu merangsang ketiga cairan ini adalah seseorang yang merekaulang situasi kita dengan orang tua kita. Seseorang yang mampu memberikan apa yang hilang saat kita tumbuh dewasa. Untuk beberapa orang mencari keamanan, untuk yang lain kehangatan atau bahkan petualangan. Oleh karena itu banyak gadis yang berasal dari keluarga “baik-baik” jatuh cinta kepada” bad boys”. Pemilihan pasangan yang terjadi di area sub-consious (tidak disadari) ini yang dapat membuat “hormon cinta” kita bekerja.
Lamanya otak kita kebanjiran ramuan cinta ini berbeda-beda untuk setiap orang, antara 6 bulan – 3 tahun. Sebagian besar dari kita, letupan-letupan itu akan mereda setelah waktu ini. Untuk orang-orang yang suka ganti-ganti pacar, rasa “fly” jatuh cinta itu dirindukan sehingga butuh sumber “fly” lain.Kalau “junkie” kita ini nikah, maka mereka akan butuh hubungan baru untuk membuat mereka tetep high. Lalu apa yang terjadi setelah 3 tahun? Apakah hubungan cinta kita akan datar? Garing? Yah tergantung, apakah kita butuh “ngobat” terus atau tidak. Setelah 3 tahun, setelah kita lebih mengenal pasangan kita, sudah melewati banyak kejadian lucu dan bodoh, kita memiliki ikatan yang lebih kuat secara emosional. Ikatan inilah yang membuat kita tetap fokus terhadap pasangan kita. Kenyamanan yang tidak semua orang bisa memberikan kepada kita. Saat inilah biasanya hubungan mulai menghadapi goncangan-goncangan. Saat sudah tidak fly lagi, otomatis yang tersisa hanyalah anda dan dia dengan kekurangan masing-masing. Saat inilah yang mungkin dibilang “saat-saat merana” yang terkadang orang yang memilih merana dibilang masokis. Sebenarnya, yang terjadi adalah dua orang manusia sedang mempelajari satu sama lain dan berusaha toleransi dan kompromi atas pertimbangan begitu berharganya kita bertemu orang yang spesial dihati.
Apakah cinta berhenti di saling toleransi dan kompromi? Tidak sama sekali. Ada cairan lain yang bekerja namanya vasopressin untuk laki-laki dan oxytocin untuk wanitanya. Hormon ini biasanya jadi sangat tinggi jumlahnya setelah pasangan ini melakukan hubungan seksual. Apa fungsi dari hormon ini? Vasopressin menempel pada reseptor yang menompang area otak tempat diberikannya sense of reward. Menurut para peneliti, perasaan reward ini diasosiasikan dengan ingatan saat berhubungan seksual dengan pasangannya. Hormon ini biasanya disebut dengan cairan monogamus.
Setiap pria memiliki jumlah reseptor hormon vasopressin yang berbeda. Semakin banyak jumlah reseptornya, semakin setialah orang itu. Hal ini dibuktikan dengan mengobservasi binatang berjenis sama namun hidup ditempat berbeda sehingga karena proses adaptasi memiliki jumlah reseptor yang berbeda. Dan hasilnya, hewan yang memiliki banyak reseptor terus bersama pasangannya dan mendampingi membesarkan anak-anak mereka. Para pembaca cewe-cewe pasti ingin tau jumlah reseptor yang dimiliki pasangannya. Hehe suruh PET Scan aja.. :d
Sedangkan oxytoxin, atau sering disebut `cuddling ‘chemical.Hormon ini biasanya menjadi tinggi setelah berhubungan seksual juga. Hormon ini meningkatkan kebutuhan kita untuk disentuh secara fisik, dekat secara fisik dengan pasangannya dan untuk memperhatikan pasangan kita. Walau diproduksi besar-besaran setelah berhubungan seksual, Oxytoxin juga dapat dirangsang hanya dengan tatapan pasangan, baunya atau bayangan tentang pasangan kita. Apa yang terjadi saat sang wanita memiliki kebutuhan untuk disayang? dia akan meminta pasangannya, bisa dengan menunjukkan sayang duluan, atau langsung minta aja. Si pasangannya yang sudah keracunan vasopressin, dengan serta mertanya memberikan kasih sayang itu. Atas perbuatan baiknya itu si otaknya memberikan reward-nya. Dan terjadilah a rewarding relationship.
Jadi teman-temanku tercinta, setelah ketertarikan yang menggebu-gebu hilang, zat kimiawi lain yang bertanggung jawab menstimulasi terjadinya hubungan yang intim secara emosional mengambil alih. Hormon-hormon ini membuat sebuah hubungan menjadi lebih stabil, intim, dapat diandalkan, hangat dan dapat menjadi pengalaman berbagi yang indah. Walaupun tidak sehebat high saat baru-baru pacaran, keadaan seperti ini menimbulkan ketenangan jiwa dan stabilitas. Kedua hal yang sangat positif pengaruhnya terhadap kesehatan mental.
Cinta karena butuh atau butuh karena cinta? Kalau menurut saya…nggak usah dipikirin. Di jaman yang banyak sekali masalah, beruntung kalau kita bisa bertemu orang yang bahagia bersama kita sampai tua nanti. Dan dari kita sendiri, bersama orang yang cukup bisa membuat kita tidak ingin menampar orang lain tiap hari saya rasa sudah cukup. Disamping itu, apakah sudah ada yang mendefinisikan arti cinta dengan sangat tepat? Saya rasa belum. Jadi berhentilah mendefinisikan cinta yang sangat irrasional sehingga sangat sulit untuk mencari definisi yang sifatnya selalu rasional. Dan mulailah bersyukur ada seseorang yang selalu ada disamping anda dan mulailah melakukan usaha-usaha untuk merawat hubungan yang anda miliki.



6 comments:
Ini entri yang menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita. Kalau mau referensi lain tentang hal yang terhubung, baca artikel Mengapa Sulit Jatuh Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.
Lex dePraxis
Romantic Renaissance
Terima kasih kembali. Kupasang link blognya ya... tampaknya sudah sangat berkembang ya.. waiting for future disscussion :)
Do I love you because I need you?
or
do I need you because I love you?
hii
...makasih tulisannya
lam kenal .. :))
jgn lpa liat artikel qw y...Benarkah ini CINTA...
wah kok sepi yah... heheheh (narsis mode on)
jangan kuatir secara kualitatif lo lebih bagus kok, soalnya yang komen banyak & banyak yg mau ikut di blog lo, gw segitu2 aja.. hiks :((
@ jhent ch: salam kenal juga, dah diliat, dibaca dan di komentari hehe hayuu kita ngomongin cinta :)
@bi...eeeehh saya berkata aka ahli romansa: aaah mr.ahli, jangan gitu dong. Secara kualitatif blognya bagusan lo juga kok... {sok2 humble mode on} b-
Tempat Berkomentar